STUDI
KEANEKARAGAMAN DIVISI RHODOPHYTA PANTAI KONDANG MERAK, DESA SUMBERBENING,
KECAMATAN BANTUR, KABUPATEN MALANG
Dosen
Pengampu :
Drs.
Sulisetjono, M.Si
Ainun
Nikmati Laily, M.Si
Disusun
Oleh :
Novivy Ratna
Sari (13620051)
Meike Tya Kusuma (13620062)
Magstin Najla
Safura (13620072)
Muhammad
Ihsanuddin (13620073)
Zaidatul
Khasanah (13620084)
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN
TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah berkenan memberi petunjuk dan
kekuatan kepada kami sehingga makalah “STUDI KEANEKARAGAMAN DIVISI
RHODOPHYTA PANTAI KONDANG MERAK, DESA SUMBERBENING, KECAMATAN BANTUR, KABUPATEN
MALANG” ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu meskipun kurang
sempurna dalam sisi penulisan maupun isi yang terkandung di dalamnya. Makalah
ini kami buat guna memenuhi salah satu praktikum mata kuliah Botani Tumbuhan
Tidak Berpembuluh.
Ucapan terima kasih terlantun dari
lisan dan hati penulis pada pihak – pihak terkait yang telah membantu secara
tidak langsung mengarahkan penulis dalam penyusunan makalah ini. Kepada Ibu
Ainun Nikmati Laily, M.Si., yang telah memberikan setiap materi kepada penulis,
dan mempercayai penulis untuk mengkaji lebih dalam pada materi porifera. Tak
lupa kepada teman-teman yang telah rela membantu menyelesaikan makalah ini,
baik dengan tenaga maupun fikiran.
Kami menyadari bahwa dalam proses
penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara
penulisannya. Namun demikian, kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan
pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik, dan oleh
karenanya, kami dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan,
saran serta usul yang bersifat membangun guna penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua dalam belajar dan hasilnya dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Malang, 14 Oktober 2014
Tim
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Indonesia
merupakan negara maritim mempunyai prospek yang cukup cerah untuk memberdayakan
sumber daya hayati kelautan. Salah satu komponen biota yang merupakan sumber
daya hayati adalah makroalga. Menurut
Tambupulon (2013), makroalga memiliki keanekaragaman di perairan Indonesia,
sampai saat ini sudah ada beberapa yang dimanfaatkan menurut potensinya. Keanekaragaman
makroalga dapat ditemukan di Pantai kondang merak, yang terletak di desa Sumberbening,
kecamatan Bantur, kabupaten Malang. Jenis-jenis makroalga yang ditemukan di
Pantai Kondang Merak umumnya berasal dari divisi Chlorophyta, Phaeophyta,
dan Rhodophyta.
Salah
satu divisi makroalga dari Pantai Kondang merak adalah Rhodophyta. Divisi ini
disebut juga dengan ganggang merah. Menurut Praptinah (2003) Alga merah
bersifat adaptasi kromatik, yaitu memiliki penyesuaian antara proporsi pigmen
dengan berbagai kualitas pencahayaan dan dapat menimbulkan berbagai warna pada
tallus, seperti : merah tua, merah muda, pirang, coklat, kuning dan hijau. Sulisetijono
(2009) menambahkan bahwa hal ini disebabkan oleh pigmen klorofil a, klorofil d,
karotenoid, dan fikobilin (fikoeritrin dan fikosianin) yang terkandung di dalam
tubuh Rhodophyta.
Pemaanfaatan
alga dari divisi rhodophyta diantaranya adalah sebagai bahan penstabil (stabilizer) dan bahan pengental (gelling agent). Bahan penstabil
misalnya untuk pelapis kue donat, eskrim, dan yougurt. Sedangkan bahan
pengental, digunakan dalam makanan kaleng. Praptinah (2003) menambahkan bahwa
rhodophyta dalam bidang mikrobiologi digunakan untuk pembuatan medium, dan
dalam bidang farmasi digunakan sebagai laktasif, cetakan gigi, dan sebagai
bahan suspense dalam obat-obatan.
Pemanfaatan alga telah
sesuai dengan ayat Al-Qur’an dalam surat Al-An’am ayat 99, yang berbunyi
sebagai berikut:
“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari
langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan Maka
Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan
dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma
mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (kami
keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa.
perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pula)
kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan
Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’am
: 99).
Berdasarkan paparan di atas,
merujuk pada pentingnya penelitian dan mengacu pada surat Al-An’am ayat 99, sehingga
perlu diadakananya kuliah kerja lapangan (KKL) di Pantai Kondang Merak guna
mengidentifikasi keanekaragaman alga merah, baik dari organisasi talus,
morfologi dan siklus hidup/reproduksinya.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pratikum lapangan ini adalah :
1.2.1
Untuk mengetahui
jenis keanekaragaman alga merah (Rhodophyta) yang berada di Zona Pasang Surut
Pantai Kondang Merak, Malang Selatan
1.2.2
Untuk mempelajari
organisasi talus, morfologi dan siklus hidup/reproduksi alga merah (Rhodophyta)
di Zona Pasang Surut Pantai Kondang Merak, Malang Selatan
1.3 Manfaat
Manfaat dari hasil penelitian Ini
diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:
1.3.1 Dapat
mengetahui jenis keanekaragaman alga merah (Rhodophyta) yang berada di Zona
Pasang Surut Pantai Kondang Merak, Malang Selatan
1.3.2 Dapat
mengetahui organisasi talus, morfologi dan siklus hidup/reproduksi alga merah
(Rhodophyta) di Zona Pasang Surut Pantai Kondang Merak, Malang Selatan
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Alga
Istilah alga (Algae)
dalam bahasa Indonesia disebut ganggang, mempunyai batasan yang bervariasi
bahkan dikalangan ahli biologi sendiri terdapat perbedaan dalam memberikan
batasan istilah alga. Menurut Smith (1955), Gupta (1981), dan Bold and Wynne
(1985), alga adalah organisme berklorofil, tubuhnya merupakan tallus unisel
atau multisel, alat reproduksi pada umumnya berupa sel tunggal, meskipun ada
juga alga yang tersusun dari banyak sel.
Alga yang terdapat
di dasar laut banyak terdapat di sepanjang pantai, mulai dari zona pasang surut
sampai sedalam sinar surya dapat ditembus. Di perairan yang jernih beberapa
jenis alga mampu hidup sampai kedalaman lebih dari 150 meter. Biasanya alga ini
sedikit terdapat di perairan yang dasarnya berlumpur aatau berpasir karena
sangat terbatas benda keras yang cukup kkoh untuk melekat. Alga banyak
ditemukan di terumbu karang, cangkang mollusca, potongan kayu dan sebagainya.
Adapula yang apabila terlepas dari substrat dasar dapat hidup mengambang di
permukaan karena mempunyai gelembung-gelembung gas senagai pelampung seperti
pada Sargassum sp. (Nontji, 1993).
Selain tidak dapat
dibedakan antara akar, batang dan daun bentuk dari talus rumput laut ini
bermacam-macam antara lain bulat seperti tabung, pipih, gepeng, bulat seperti
kantong, rambut, dan sebagainya. Percabangan talus ada yang dichotomus (bercabang dua
terus-menerus), pectinate (berderet
searah pada satu sisi thallus utama) dan ada yang sederhana, tidak bercabang.
Sifat substansi talus juga beraneka ragam, ada yang lunak seperti gelatin
(gellatinous), keras diliputi/mengandung zat kapur (calcareous) lunak seperti tulang rawan (cartilagenous), berserabut (spongious),
dan sebagainya (Aslan, 1991).
Pigmen yang terdapat
dalam talus rumput laut dapat digunakan dalam membedakan berbagai divisi
seperti Chlorophyta, Phaeophyta, Rhodophyta, dan Cyanophyta. Perbedaan warna
thallus menimbulkan adanya ciri alga yang berbeda seperti algae hijau, algae
coklat, algae merah, dan algae biru (Aslan, 1991).
Menurut Nontji
(1993), alga yang berukuran besar tergolong dalam tiga divisi yakni Chlorophyta
(alga biru), Phaeophyta (alga coklat), dan Rhodophyta (alga merah). Tiap divisi
mempunyai ciri kandungan jenis pigmen yang tertentu. Alga yang mempunyai nilai
ekonomis termasuk dalam ketiga golongan ini (Nontji, 1993).
2.2
Alga merah
(Rhodophyta)
Warna alga merah ini
sangat mencolok dan bercahaya. Alga ini merupakan benda-benda makroskopik yang
indah dari jenis-jenis yang kecil sekali ukurannya. Alga ini bersifat adaptasi
kromatik, yaitu mempunyai penyesuaian antara proporsi pigmen dengan berbagai
kualitas pencahayaan dan dapat menimbulkan berbagai warna pada thali seperti:
merah tua, merah muda, pirang, coklat, kuning dan hijau (Nybakken, 1992).
2.2.1
Habitat
Alga merah didapat di semua laut kutub
tetapi paling baik berkembangnya di daerah hopika dari bagian yang tinggi dari
zona antarpasang sampai ke kedalaman yang lebih jauh daripada alga-alga lain.
"Di perairan tropika yang bening sampai kedalaman 170 meter." (Mc
Connaughey, 1983)
Rhodophyta ditemukan hidup di seluruh
garis lintang, tetapi kemelimpahan terbesar dan jumlah jenis yang terbanyak di
ekuator. Jenis-jenis yang hidup di daerah beriklim sedang talusnya berukuran
besar dan lebih berdaging agak tebal, di daerah tropis jenis-jenisnya berukuran
kecil (Praptinah, 2003).
Pada umumnya hidup di lingkungan air laut, tetapi beberapa yang hidup di
air tawar, contoh: Batrachospermum.
Distribusi luas di seluruh dunia, sebagian besar tumbuh pada batu-batuan
karang, beberapa jenis juga epifit pada tumbuhan air, kelompok tumbuhan tinggi
(Angiosperm) atau pada Rohodophyta yang lain (Loveless,1989).
2.2.2 Taksonomi
Taksonomi alga merah
Alga merah dalam sistem taksonomi tumbuhan termasuk dalam divisi Thallophyta
(tumbuhan thalus) dan termasuk dalam kelas Rhodophyceae. "Kelas Rhodophyceae
terdiri dari 400 genus dan 2500 species" (Mc Connaughey, 1983). Menurut
Bold dan Michael (1985), "Sub kelas Bangioideae terdiri dari 3 ordo, yaitu
:Porphyridiales, Comsogonales dan Bagiales. Sedangkan untuk sub kelas
Florideophycidae terdin atas l0 ordo yaitu : Cryptonemiales, Corallinales,
Gigartinales, Rhodymeniales, Ceramiales, Batrachospermales, Palmarinales,
Nemaliales, Gelidiales, Bonnemaisoaeles.”
2.2.3 Susunan Tubuh
Alga merah mempunyai
bentuk talus biasanya berupa daun yang sederhana atau mungkin pula mempunyai
bagian seperti batang dan daun-daun terpisah. Pada beberapa kelompok biasanya
berkerak. Talus alga merah adalah multiseluler karena filamen-filamen yang
bercabang-cabang bebas satu sama lain atau cabang-cabang tadi saling menjalin
di dalam suatu matrik yang menyerupai gelatin membentuk talus yang
parenkhimatik yang morfologis berbentuk lembaran atau silinder yang sederhana
(Praptinah dkk, 2003). Warna talus bervariasi merah, ungu, coklat,
dan hijau (Loveless, 1989). Alat perekat (holdfast) terdiri dari perakaran
sel tunggal atau sel banyak (Nybakken, 1992).
2.2.4 Susunan Sel
Dinding selnya
terdapat selulosa, agar, carragenan,
porpiran dan furselaran
(Nybakken, 1992). Pada umumnya dinding sel terdiri dari dua
komponen fibriler awan membentuk rangka dinding dan komponen non fibriler
berbentuk matrik. Tipe umum dari komponen fibriler mengandung selulosa,
sedangkan non fibriler tersusun dari galaktan atau polimer dan galaktosa
seperti agar, karaginin porpiran (Pandey,1995).
Cadangan makanan pada Rhodophyceae adalah karbohidrat yang tersimpan dalam
bentuk granula yang terletak dalam sitiplasma. Granula akan berwarna merah
apabila diuji dengan potassium iodide dan disebut tepung floridean. Cadangan
makanan lain adalah florodosida (Pandey, 1995).
Pigmen terdiri dari klorofil a dan d, karotenoid, dan fikobilin
(fikoeritrin dan fikosianin). Keistimewaan dan sifat lain Rhodopyceae adalah
tidak ada sel yang dilengkapi alat gerak (Pandey, 1995).
2.2.5 Reproduksi
Rhodophyta dapat melakukan reproduksi secara vegetative, yaitu dengan
fragmentasi talusnya. Akan tetapi cara demikian ini hanya terdapat pada
beberapa jenis tertentu saja. Rhodophyta membentuk satu atau beberapa macam
spora yang tidak berflagel yaitu karpospora, spora netral, monospora, bispora,
tetraspora, atau polispora (Taylor, 1960).
Reproduksi sporik dengan karpospora. Karpospora adalah spora yang terbentuk
secara seksual, spora ini terbentuk secara langsung atau tidak langsung dari
zigot. Spora-spora lainnya adalah spora aseksual. Spora netral adalah spora
yang terbentuk langsung dari sel vegetative yang mengalami metamorfosa.
Monospora adalah spora yang terbentuk dalam sporangium yang hanya menghasilkan
satu spora saja (Taylor, 1960).
Reproduksi gametik pada Rhodopyta berbeda dengan golongan alga lainnya dan
untuk struktur yang berkaitan dengan reproduksi ini, mempunyai terminologi
tersendiri. Alat kelamin jantan disebut spermatangium, sel kelamin jantan tidak
berflagella disebut spermatium, dalam satu spermatangium hanya dibentuk satu
spermatium saja. Alat kelamin betina disebut karpogonium yang terdiri dari satu
sel yang di bagian ujung distalnya terdapat tonjolan yang disebut trikhogin,
inti terdapat di bagian dasar dari karpogonium. Spermatium yang dibebaskan dari
spermatangium terbawa gerakan air sampai trikhogin. Pada tempat menempelnya
spermatium terbentuklah lubang kecil sehingga inti dari spermatium dapat masuk
ke dalam trikhogin dan berimigrasi ke bagian dasar dari karpogium di mana inti
karpogium berada. Kedua inti bersatu dan terbentuklah zygot. Rhodophyta yang
tinggi tingkatannya mempunyai daur hidup dengan pergantian keturunan yang
bifasik dan trifasik (Romimohtarto, 2001).
2.2.6 Pemanfaatan
Alga Merah
Rhodopyceae mengandung agar-agar yang
sebagian besar digunakan dalam industri makanan terutama sebagai bahan
penstabil (stabilizer) dan bahan pengental (gelling
agent). Penghasil agar-agar antara lain Gracilaria
dan Gellidium. Bahan penstabil misalnya
untuk pelapis kue donat, es laim dan yoghurt, sedangkan bahan pengental digunakan
dalam makanan kaleng. Di bidang farmasi digunakan sebagai laksatif, cetakan gigi
dan sebagai bahan suspensi dalam obat-obatan. Di bidang milcrobiologi digunakan
untuk pembuatan medium. Pada bidang-lain agar-agar digunakan untuk fotografi, pelapis
kertas dan tekstil. Sedangkan di bidang kosmetika digunakan untuk pembuatan
salep, krim, sabun, dan pembersih muka. Eucheuma
dan Gigartina penghasil caragenan yang dalam dunia industri
ca:ragenan berbentuk garam bila bereaksi dengan sodium, kalsium dan potasium
(Praptinah dkk, 2003).
Contoh dari alga
merah yaitu :
Euchema cottoni
Klasifikasi :
Divisi Rhodophyta
Kelas Rhodophyceae
Sub kelas
Florideophycidae
Bangsa
Gigantinales
Suku Solieraceae
Marga Eucheuma
Jenis Eucheuma Cottoni
Eucheuma cottonii merupakan salah satu jenis rumput laut merah (Rhodophyta). Ciri fisik E. cottonii adalah mempunyai thallus
silindris, permukaan licin, cartilogeneus.
Keadaan warna tidak selalu tetap, kadang-kadang berwarna hijau, hijau kuning,
abu-abu atau merah. Perubahan warna sering terjadi hanya karena faktor
lingkungan. Kejadian ini merupakan suatu proses adaptasi kromatik yaitu
penyesuaian antara proporsi pigmen dengan berbagai kualitas pencahayaan.
Umumnya E. cottonii tumbuh dengan
baik di daerah pantai terumbu (reef).
Habitat khasnya adalah daerah yang memperoleh aliran air laut yang tetap,
variasi suhu harian yang kecil dan substrat batu karang mati (Aslan, 1991).
Tumbuh melekat ke substrat dengan alat perekat berupa cakram. Cabang-cabang
pertama dan kedua tumbuh dengan membentuk rumpun yang rimbun dengan ciri khusus
mengarah ke arah datangnya sinar matahari (Aslan, 1991).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian makroalga ini dilakukan pada hari Sabtu-Minggu,
tanggal 11-12 oktober 2014, di Pantai Kondang Merak, desa Sumberbening,
kecamatan Bantur, kabupaten Malang.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1
Alat
Peralatan yang
digunakan dalam penelitian makroalga antara lain:
1. Kamera
2. Kertas label
3. Alat tulis
4. Buku literatur
5. Plastik
6. Penggaris
3.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam
penelitian ini antara lain:
1. Makroalga dari divisi Rhodophyta.
3.3 Cara kerja
Cara kerja
yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.
Dicari makroalga dari divisi Rhodophyta di pinggir laut.
2.
Diidentifikasi makroalga Rhodophyta tersebut.
3.
Didokumentasikan makroalga Rhodophyta tersebut.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
|
Gambar Pengamatan
|
Gambar Literatur
|
|
|
|
Kelas: Florideophyceae
Bangsa: Gigartinales
Suku: Rhizophyllidaceae
Marga: Chondrococcus
Jenis: Chondrococcus hornemanii
Chondrococcus hornemanii merupakan
ganggang merah dari kelas Rhodophyceae yang berhabitat di air laut. Ganggang
ini ditemukan menempel pada substrat berupa batu-batuan di dasar perairan
dangkal. C. hornemanii hanya
dapat dilihat saat keadaan laut surut, yakni pagi setelah subuh dan sore
menjelang magrib. Hal ini sesuai dengan
pendapat Loveless (1989) yang menyatakan bahwa distribusi divisi Rhodophyta luas di seluruh dunia, sebagian besar tumbuh
pada batu-batuan karang, beberapa jenis juga epifit pada tumbuhan air, kelompok
tumbuhan tinggi (Angiosperm) atau pada Rohodophyta yang lain.
Chondrococcus
hornemanii memiliki struktur thalus yang lengkap,
yakni terdiri dari holdfast, stipe, dan blade. Stipe dan blade pada C. hornemanii
ini sulit dibedakan, blade berbentuk lembaran pipih dengan tekstur licin dan
tipis seperti kertas, sedangkan stipe sangat pendek. Warna C. hornemanii merah
kecoklatan dengan panjang tubuh 3-6 cm. Menurut
Sulisetjono (2009), warna spesies ini disebabkan oleh pigmen klorofil a,
klorofil d, karotenoid, dan fikobilin (fikoeritrin dan fikosianin) yang
terkandung di dalam tubuhnya. Warna ini
juga sesuai dengan pendapat Loveless (1989) yang menyatakan bahwa warna talus
Rhodophyta bervariasi yaitu merah, ungu, coklat, dan hijau.
Reproduksi
Chondrococcus hornemanii dapat
dilakukan secara vegetative, gametik dan sporik. Menurut Taylor (1960), secara vegetative dengan fragmentasi talusnya. Reproduksi sporik dengan
karpospora. Karpospora adalah spora yang terbentuk secara seksual, spora ini
terbentuk secara langsung atau tidak langsung dari zigot. Spora-spora lainnya
adalah spora aseksual. Spora netral adalah spora yang terbentuk langsung dari
sel vegetative yang mengalami metamorfosa. Monospora adalah spora yang
terbentuk dalam sporangium yang hanya menghasilkan satu spora saja.
Menurut Romimohtarto (2001) reproduksi gametik dengan golongan algalat kelamin jantan dan alat betina,
Alat kelamin jantan disebut spermatangium, sel kelamin jantan tidak berflagella
disebut spermatium, dalam satu spermatangium hanya dibentuk satu spermatium
saja. Alat kelamin betina disebut karpogonium yang terdiri dari satu sel yang
di bagian ujung distalnya terdapat tonjolan yang disebut trikhogin, inti
terdapat di bagian dasar dari karpogonium. Spermatium yang dibebaskan dari
spermatangium terbawa gerakan air sampai trikhogin. Pada tempat menempelnya
spermatium terbentuklah lubang kecil sehingga inti dari spermatium dapat masuk
ke dalam trikhogin dan berimigrasi ke bagian dasar dari karpogium di mana inti
karpogium berada. Kedua inti bersatu dan terbentuklah zygot. \
4.2 Gracillaria
arcuata
|
Gambar Pengamatan
|
Gambar Literatur
|
|
|
|
Klasifikasi
Divisi: Rhodophyta
Divisi: Rhodophyta
Kelas: Florideophyceae
Ordo
: Gracilariales
Famili
: Glacilariaceae
Genus:
Gracillaria
Spesies: Gracillaria arcuata
Gracillaria arcuata merupakan
ganggang merah dari kelas Florideophyceae. G. arcuata ditemukan
di zona pasang surut Pantai Kondang Merak, karena alga merah (Rhodophyta)
menurut Loveless (1989), sebagian besar hidup di laut, kecuali spesies
Batrachuspermum, yang hanya hidup di air tawar. Smith (1955) juga menyatakan
bahwa alga merah tersebar luas, banyak terdapat di perairan beriklim sedang
daerah pasang surut.
Gracillaria arcuata memiliki tubuh bentuk silindris / gepeng
dengan cabang, mulai dari yang sederhana sampai rumit dan rimbun. Di atas
percabangan umumnya bentuk thalli agak mengecil. Panjang tubuhnya 3-5 cm. G.
arcuata memiliki holdfast
yang menempel pada substrat dengan stipe dan blade yang sulit dibedakan. Warna G.
arcuata merah keunguan, karena sesuai pendapat Sulisetjono (2009) bahwa
Rhodophyta memiliki pigmen yang
terdiri dari klorofil a dan d, karotenoid, dan fikobilin (fikoeritrin dan
fikosianin). Warna ini juga sesuai dengan pendapat Loveless (1989) yang
menyatakan bahwa warna talus Rhodophyta bervariasi yaitu merah, ungu, coklat,
dan hijau.
Siklus
hidup gracillaria dari subkelas Florideophycidae (alga merah) menurut Bold
(1978) bersifat trifasik (mengalami tiga fase pertumbuhan). Ketiga fase
tersebut yaitu fase gametofit, karposporofit, dan tetrasporofit. Dan ketiga
fase tersebut terjadi secara bersamaan .
Fase
Gametofit. Gametofit jantan dan betina merupakan thallus hasil germinasi dari
tetraspora atau bentuk tumbuh haploid. Untuk membedakan gametofit jantan dan
gametofit betina antara lain dapat dilihat secara morfologi, yaitu dengan
melihat perbedaan warna thallus. Gametofit jantan warnanya lebih pucat serta
memiliki ukuran yang lebih panjang disbanding dengan gametofit betina.
Fase
Karposporofit. Karposporofit adalah bentuk tumbuhan haplo-diploid yang
gametofit betinanya adalah haploid, sementara sistokarp yang menempel pada
gametofit betina tadi mengandung spora diploid. Fase karposporofit dimulai
sejak terjadinya fertilisasi antara karpogonium dan spermatia. Setelah
karpogonium dibuahi, maka trichogyne akan mengerut, karpogonium akan melebur
dengan del di bawahnya yang berbentuk seperti filamen. Filamen ini akan
membentuk beberapa lobus, dari fase inilah gonimoblast dibentuk. Selanjutnya
karpospora dibentuk pada ujung-ujung dari filamen gonimoblast. Sementara itu, supporting cell dan steril branch juga melebur menjadi satu yang berfungsi sebagai sel
nutrisi. Karpogonium yang telah dibuahi mengalami serangkaian peroses dalam
perkembangan selanjutnya.
Fase
Tetrasporofit Karpospora yang telah dilepas ke lingkungan akan bergerminasi dan
tumbuh menjadi bentuk tumbuhan tetrasporofit. Selanjutnya tetrasporofit akan
membentuk tetrasporangium yang akan menghasilkan tetraspora.
BAB
V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Simpulan dari
penelitian makroalga di kondang merak adalah sebagai berikut:
1. Rhodophyta
yang ditemukan pada zona pasang surut pantai kondang merak, Malang selatan
adalah spesies Condrococcus hernomonni
dan Gracillaria arculata.
a. Condrococcus
hernomonni adalah merah kecoklatan dengan panjang
tubuh 3-6 cm, memiliki talus lengkap yaitu terdiri dari holdfast, blade, dan
stipe. Blade berbentuk lembaran pipih dengan tekstur licin dan tipis seperti
kertas, sedangkan stipe sangat pendek. Ditemukan menempel pada substrat berupa
batu-batuan di dasar perairan dangkal.
b. Gracillaria
arculata adalah alga merah kecoklatan yang memiliki talus
lengkap, yaitu memiliki stipe, blade, dan holdfast. Bentuk talus parenkimatus
silinder dengan panjang 3-5 cm, teksturnya licin dan kenyal seperti agar-agar,
dan dapat ditemukan menempel pada batu karang.
2.
Reproduksi dari Condrococcus hernomonni dan Gracillaria arculata adalah sebagai
berikut:
a. Reproduksi Condrococcus hernomonni dengan tiga
cara, yakni secara vegetatif, gametik, dan sporik.
b. Reproduksi
Gracillaria arculata dengan tiga fase
yang terjadi secara bersamaan, fase tersebut adalah fase gametofit, fase
karposporofit, dan fase tetrasporofit.
5.2 Saran
Diharapkan untuk
KKL selanjutnya, setiap individu membawa literatur identifikasi makroalga
dengan lengkap. Sehingga memudahkan identifikasi spesies yang telah ditemukan.
DAFTAR PUSTAKA
Aslan, L. M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Kanisius. Yogyakarta.
Bold. 1978. Introduction To The
Algae, Structure and Reproduction. New Delhi : Prentice Hall Of India
Loveless, A.R. 1989. Prinsip-prinsip
Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 2. Jakarta: PT Gramedia
Mc Connaughey,
Robert Zottoli.. 1983. Pengantar Biologi
Laut. Semarang: IKIP Semarang Press
Nontji, Anugrah.
1993. Laut Nusantara. Jakarta:
Djambatan
Nybakken, J. W. 1992
. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis.
Jakarta: Gramedia
Pandey, S.N. 1995. A Textbook of
Algae. Jakarta: Vikas Publishing
Praptinah,
Muzayyinah, Harlita. 2003. Keanekaragaman Riiodophyceae Di Pantai Sundak
Sebagai Sumber Belajar Biologi Algae. Jurnal
Bioedukasi. Volume 1, Nomor I Halaman l3-19 ISSN: 1693-265X
Romimohtarto. 2001. Biologi Laut-Ilmu Pengetahuan Tentang Biota
Laut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. Jakarta: LIPI
Smith, GM. 1955. Cryptogamic Botany Vol. 1. Algae And Fungi,
MC. Graw-Hill. Tokyo: Book Company
Sulisetjono. 2009. Alga. Malang: UIN Press
Tambupulon, Agrialin, Grevo S, Gerung1, Billy Wagey. 2013. Biodiversitas Alga Makro di Lagun Pulau Pasige, Kecamatan Tagulandang,
Kabupaten Sitaro. Jurnal Pesisir dan Laut
Tropis. Volume 2 Nomor 1
Taylor, W. R. 1960. Marine Algae of
the Eastern Tropical and Subtropical Coast of the Americas. New York : Ann
Akbor the University of Michigan Press







0 komentar:
Posting Komentar