LAPORAN KULIAH KERJA LAPANG (KKL)
KEANEKARAGAMAN JAMUR, LICHEN, DAN LUMUT
DI TAMAN TAHURA R. SOERYO, DESA TULUNGREJO,
KECAMATAN BATU, KABUPATEN MALANG
Dosen
Pengampu :
Drs.
Sulisetjono, M.Si
Ainun
Nikmati Laily, M.Si

Disusun
Oleh :
Novivy Ratna
Sari (13620051)
Meike Tya Kusuma (13620062)
Magstin Najla
Safura (13620072)
Muhammad
Ikhsanuddin (13620073)
Zaidatul
Khasanah (13620084)
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN
TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah berkenan memberi petunjuk dan
kekuatan kepada kami sehingga makalah “KeanekaragamanJamur, Lichen, dan Lumut di Taman Tahura R. Soeryo, Desa
Tulungrejo, Kecamatan BAtu, Kabupaten Malang” ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu meskipun
kurang sempurna dalam sisi penulisan maupun isi yang terkandung di dalamnya.
Makalah ini kami buat guna memenuhi salah satu praktikum mata kuliah Botani
Tumbuhan Tidak Berpembuluh.
Ucapan terima kasih terlantun dari
lisan dan hati penulis pada pihak – pihak terkait yang telah membantu secara
tidak langsung mengarahkan penulis dalam penyusunan makalah ini. Kepada Ibu
Ainun Nikmati Laily, M.Si., yang telah memberikan setiap materi kepada penulis,
dan mempercayai penulis untuk mengkaji lebih dalam pada materi porifera. Tak
lupa kepada teman-teman yang telah rela membantu menyelesaikan makalah ini,
baik dengan tenaga maupun fikiran.
Kami menyadari bahwa dalam proses
penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara
penulisannya. Namun demikian, kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan
pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik, dan oleh
karenanya, kami dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan,
saran serta usul yang bersifat membangun guna penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua dalam belajar dan hasilnya dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Malang, 11 November 2014
Tim
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tumbuhan di dunia ini sangat
beragam. Terdapat tumbuhan yang sudah memiliki akar, batang dan daun yang sudah
dapat dibedakan dengan jelas atau yang disebut Cormophyta. Akan tetapi ada pula
tumbuhan yang akar, batang dan daunnya masih belum dapat dibedakan atau disebut
thallophyta. Tumbuhan berkormus meliputi beberapa jenis tumbuhan tingkat
tinggi, sedangkan tumbuhan berthallus meliputi alga, lumut dan lumut kerak.
Dalam pembahasan ini akan diuraikan tentang lumut, liken (lumut kerak), dan
jamur.
Tumbuhan Lumut (Bryophyta) merupakan
tumbuhan yang relatif kecil, tubuhnya hanya beberapa milimeter saja, lumut hidup pada tempat-tempat
yang lembab, sedangkan lichenes atau lumut kerak sering disebut
sebagai tumbuhan perintis. Lichenes hidup sebagai epifit pada pohon-pohonan
tetapi dapat juga di atas tanah.
Selain itu terdapat jamur yang merupakan tumbuhan tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof.
Ketiga organisme tersebut secara
umum dapat disebut sebagai organisme bertalus. Di Indonesia potensi akan
tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan tersebut dapat ditemukan pada beberapa daerah
yang memiliki kelembaban tinggi dan kondisi udara yang bersih. Habitat dari
ketiga jenis organisme tersebut dapat ditemukan dalam satu tempat yang memang
memiliki potensi sebagai tempat hidup yang memberikannya nutrisi dan pemenuhan
unsur-unsur yang dibutuhkan. Salah satunya adalah di hutan wisata Tahura R.
Soeryo.
Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo secara administrasi
pemerintahan terletak di Desa Tulungrejo, Kecamatan Batu, Kabupaten Derah
Tingkat II Malang, Propinsi Jawa Timur, sedangkan secara geografis Tahura R.
Soeryo terletak pada 11232’00" Bujur Timur dan 7044'30" Lintang
Selatan. Pengelolaan kawasan berada pada Resort KSDA Lalijiwo Barat, Sub Balai
Konservasi Sumber Daya Alam Jatim I, Balai KSDA IV, Kanwil Departemen Kehutanan
Propinsi Jawa Timur ( Anonim, 2014).
Keadaaan flora dan kawasan TAHURA R. Soeryo didominasi
tumbuhan jenis : Cemara (Casuarina junghuniana), Saren (Toenasureni),
Pasang (Quercus lincata), Kemelandingan gunung (Mycura javabica)
dan berbagai jenis tumbuhan bawah (Anonim, 2014). Tumbuhan bawah yang dimaksud
adalah tumbuhan tingkat rendah seperti lichen, lumut, dan yang serupa, yakni
jamur (fungi).
Allah SWT berfirman dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30:

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada
Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di
muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui."
Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah SWT telah menciptakan berbagai macam tumbuhan di muka bumi. Manusia sebagai khalifah di muka bumi ini hendaknya menggali, memelihara, melestarikan dan mengambil manfaat demi terwujudnya kesejahteraan segenap
umat manusia.
Kuliah Kerja Lapangan
(KKL) merupakan kegiatan mengamati dan meneliti spesies di habitat alinya yang
perlu untuk dilakukan. Hal ini dilakukan agar mengetahui objek-objek yang diamati, meliputi
klasifikasi, jenis, morfologi serta anatomi, siklus hidup dan manfaatnya
sehingga memberi manfaat bagi masyarakat dan kehidupannya.
1.2 Tujuan
Tujuan dari kuliah
kerja lapang (KKL) ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk
mempelajari morfologi, dan siklus hidup/reproduksi dari Jamur, Lichenes, dan
Lumut di Tahura R. Soeryo, Desa
Tulungrejo,
Kecamatan Batu, Kabupaten Malang.
1.3 Manfaat
Manfaat yang diperoleh
dari Kuliah Kerja Lapang (KKL) ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui jenis keanekaragaman jamur, lichen,
dan lumut pada habitatnya secara langsung di
Tahura R.Soeryo, Desa
Tulungrejo,
Kecamatan Batu, Kabupaten Malang.
2. Dapat mengetahui organisasi talus, morfologi dan
siklus hidup/reproduksi jamur, lichen, dan di
Tahura R.Soeryo, Desa
Tulungrejo,
Kecamatan Batu, Kabupaten Malang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 JAMUR (FUNGI)
Jamur
merupakan organisme yang tidak mempunyai klorofil sehinnga jamur tidak dapat
menyediakan makanan sendiri dengan cara fotosintesis seperti pada tanaman yang
berklrofil (Arif, dkk., 2007). P Oleh karena jamur memerlukan senyawa organic
baik dari bahan organic mati maupun dari organisme hidup sehingga jamur
dikatakan juga organisme heterotrofik. Jamur ini ada yang hidup dan memperoleh
makanan dari bahan organik mati seperti sisa-sisa hewan dan tumbuhan, dan ada
pula yang hidup dan memperoleh makanan dari organisme hidup. Jamur yang hidup
dan memperoleh makanan dari bahan organic mati dinamakan saprofit, sedangkan
yang hidup dan memperoleh makanan dari organism hidup dinamakan parasit
(Darnetty, 2006).
Penampilan
jamur atau cendawan tidak asing bagi kita semua. Kita dapat melihat pertumbuhan
berwarna biru dan hijau pada buah jeruk dan keju. Pertumbuhan berwarna putih
seperti bulu pada roti dan selai basi, jamur dilapangan dan hutan. Kesemuaan
ini merupakan tubuh berbagai cendawan. Jadi cendawan mempunyai berbagai macam
penampilan, tergantung pada spesiesnya. Telaah mengenai cendawan disebut
mikologi. Cendawan terdiri dari kapang (mold) dan khamir (yeast) (Perlczar,
2005).
Kapang
merupakan fungi yang berfilamen dan multiseluler. Kapang membentuk filament
panjang yang disebut hifa dan meupakan cirri utama fungi. Koloni fungi yang
merupakan massa hifa disebut miselium. Hifa mempunyai 2 struktur yaitu bersepta
dan tidak bersepta. Septa ini menyekat sel sehingga filament yang panjang ini
terlihat seperti rantai sel. Hifa yang tidak bersepta disebut hifa konosilitik.
Hifa dapat membentuk struktur reproduksi yang disebut spora (Lay, 1994).
Khamir
merupakan fungi yang tidak berrfilamen dan berproduksi memalui pertunasan atau
pembelahan sel. Bentuk koloni khamir sering kali mirip dengan bakteri. Khamir
digunakan dalam pertumbuhan roti dan anggur, namun ada pula khamir yang dapat
menimbulkan penyakit (Lay, 1994)
2.1.1 Morfologi
Jamur
Pada
umumnya, sel khamir lebih besar dari pada kebanyakan bakteri tetapi khamir yang
paling kecil tidak sebesar bakteri yang terbesar, khamir sangat beragam
ukurannya, berkisar antara 1 sampai 5 µm lebarnya dan panjangnya dari 5 samapi
30 µm atau lebih. Biasanya berbentuk telur, tetapi beberapa ada yang memanjang
atau berbentuk bola. Setiap spesies mempunyai bentuk yang khas tergantung pada
umur dan lingkungan. Khamir tidak dilengkapi flagellum atau organ-organ
penggerak lainnya (Pelczar, 2005).
Tubuh suatu
kapang pada dasarnya terdiri dari dua bagian: miselium dan spora (sel resisten,
istirahat atau dorman). Miselium merupakan kumpulan beberapa filament yang
dinamakan hifa. Setiap hifa lebernya 5 sampai 10 µm, dibandingkan dengan sel
bekteri yang biasanya berdiameter 1 µm (Pelczar, 2005).
2.1.2 Struktur
Somatik
Tubuh jamur
dikenal dengan nama talus, soma atau struktrur somatic yang pada dasarnya
terdiri dari struktur berupa benang-benang bercabang yang disebut hifa. Hifa
tersebut menyebar pada perukaan ataupun dalam substrat dan kumpulan dari hifa
tersebut dinamakan miselium hifa jamur ada yang mempunyai sekat yang dikenal
dengan istilah septum yang membangi hifa tersebut menjadi sel-sel uninukleat
(berinti satu) ataupun multinukleat (berinti banyak). Hifa yang mempunyai
septum tersebut dinamakan speta yang tidak mempunyai septum disebut asepta atau
senosit. Talus atau hifa jamur dapat dibedakan atas dua bagian yaitu:
1. Hifa vegetatif: tumbuh mengarah kedalam
substrat dan berfungsi untuk mengabsorbsi nutrisi.
2. Hifa generative: tumbuh mengarah keluar dan
berfungsi untuk perkembangbiakan (Darnetty, 2006).
Ada tiga
macam morfologi hifa yaitu:
1.
Asepta atau senosit. Hifa ini tidak mempunyai dinding sekat atau septum
2.
Septa dengan sel-sel uninukleat. Sekat membagi hifa menjadi ruang-ruang atau
sel-sel berisi nukleus tunggal. Pada setiap septum terdapat pori
ditengah-tengah yang memungkinkan perpindahan nukleus dan sitoplasma dari satu
ruang keruang yang lain. Sungguhpun setiap ruang suatu hifa yang bersekat tidak
terbatasi oleh suatu membrane sebagaimana halnya pada sel yang khas, setiap
ruang itu biasanya dinamakan sel.
3.
Septa dengan sel-sel multinukleat. Septum membagi hifa menjadi sel-sel dengan
lebih dari satu nukleus dalam setiap ruang (Pelczar, 2005).
Kebanyakan
struktur jamur berukuran besar terbentuk dari ayaman/ agregar hifa. Pada
tahap-tahap tertentu dari siklus hidup kebanyakan jamur, miselium akan
terorganisir membentuk anyaman-anyaman yang longgar ataupun padat yang dapat
dibedakan dari hifa biasa sebagai berikut:
1.
Prosenkim: ayaman hifa yang agak kendor, tersusun secara pararel, tiap-tiap
hifa masih jelas dan mudah dilepaskan dan merupakan suatu bentuk memanjang.
2.
Peudoparenkim: ayaman hifa yang lebih padat, tiap-tiap hifa sudah hilang sifat
individunya dan tidak dapat dipisahkan dan bentuknya agak oval.
3.
Rizomorf: anyaman hifa yang sangat padat, merupakan suatu unit yang
terorganisir dan titik tumbuhnya mirip dengan titik tumbuh ujung akar.
4.
Sklerotium: anyaman hifa yang keras, padat dan merupakan bentk istirahat yang
tahan terhadap kondisi yang tidak menguntungkan.
5.
Stroma: suatu struktur padat yang merupakan massa dari hifa yang berbentuk
seperti bantalan (Darnetty, 2006).
2.1.3 Reproduksi
Jamur
Secara
alamiah cendawan berkebang biak dengan berbagai cara, baik secara aseksual
dengan pembelahan, pencukupan atau pembentukan spora dapat pula secara seksual
dengan peleburan nucleus dari satu sel induk. Pada pembelahan, suatu sel
membagi diri untuk membentuk dua sel anak yang srupa. Pada penguncupan, suatu
sel anak tumbuh dari penojolan kecil pada sel inangnya (Pelczar, 2005).
Spora
aseksual dibentuk oleh hifa dari satu individu fungi. Bila spora aseksual
berimigrasi, spora tersebut akan menjadi fungi yang secara genetic identik
dengan induknya. Macam-macam spora aseksual:
1. Konidispora
(konidium), berupa spora satu sel ataupun multisel, non motil, tidak terdapat
dalam kantung dan dibentuk diujung hifa (konodiofer) konodium kecil bersel satu
disebut mikrokonidium dan konidium besar bersel banyak disebut mikrokonodium,
contohnya Aspergillus sp.
2. Sporangiospora,
merupakan spora bersel satu, terbentuk didalam kandung yang disebut sporangium
pada ujung hifa udara (sporangiosfor). Aplanospora merupakan sporangispora
nonmotil dan zoospore merupakan jenis motil dengan adanya flagella, contohnya
Rhizopus sp.
3. Arthrospora
(oidium), yaitu spora bersel satu yang terbentuk melalui terputusnya sel-sel
hifa.
4. Klamidospora
merupakan spora bersel satu yang berdinding tebal dan senagt resisten terhadap
kondisi lingkungan yang buruk terbentuk dari sel hifa somatic.
5. Blastospora,
yaitu spora aseksual yang muncul dari pertunasan pada sel khamir.
Spora
seksual dihasilkan dari reproduksi seksual, yaitu peleburan dua nukleus. Spora
ini lebih jarang terbentuk, lebih belakangan, hanya terbentuk dalam kondisi
tertentu dan dalam jumlah yang lebih sedikit dibandinkan spora aseksual. Proses
pembentukan spora seksual terdiri dari tiga tahap yaitu plasmogami, saat inti
sel haploid dari sel donor (+) mempenetrasi sitoplasma sel resipien, karyagami,
saat inti (+) dan inti (-) berfusi mejadi banyak inti haploid (spora seksual)
yang beberapa diantaranya dapat merupakan rekomendasi genetic. Macam-macam
spora seksual:
1. Askospora merupakan spora
bersel satu yang terbentuk didalam kandung (askus). Biasanya terdapat delapan
akospora dalam setiap askus.
2. Basidospora merupakan spora
bersel satu dan terbentuk diatas 3 struktur ganda (basidium).
3. Zigospora merupakan spora besar
berdinding tebal, terbentuk bila ujung dua hifa yang serasi secara seksual
(gametangia) melebur.
4. Oospora terbentuk dalam struktur
khusus pada betina yang disebut oogonium. Pembuahan telur (oosfer) oleh gamet
jantan yang terbentuk dalam antheridium menghasilkan oospora. Dalam setiap
oogonium terdapat satu atau beberapa oosfer (Pratiwi, 2004).
2.1.4 Fisiologi
Jamur
Pada umumnya jamur benang lebih tahan terhadap kekeringan disbanding khamir
atau bakteri. Namun demikian, batasan kandungan air total pada makanan yang
baik untuk pertumbuhan jamur dapat diestimasikan dan dikatakan bahwa kandungan
air dibawah 14-15% pada biji-bijian atau makanan kering dapat mencegah atau
memperlambat pertumbuhan jamur (Hidayat, 2006).
Kebanyakan
jamur termasuk dalam kelompok mesofilik, yaitu dapat tumbuh pada suhu normal.
Suhu optimum untuk kebanyakan jamur sekitar 25-30oC, namun beberapa
tumbuh pada suhu 35-37oC atau lebih, misalnya pada spesies
Aspergillus. Sejumlah jamur termasuk dalam psikrotrofik, yaitu yang dapat
tumbuh baik pada suhu dingin dan beberapa masih dapat tumbuh pada suhu dibawah
pembekuan (-5oC – 10oC). hanya beberapa yang mampu tumbuh
pada suhu tinggi (termofilik) (Hidayat, 2006).
Jamur benang
biasanya bersifat aerob yang membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya.
Kebanyakan jamur dapat tumbuh pada interval pH yang luas (pH 2,0-8,5), walaupun
pada umumnya jamur lebih suka pada suhu tinggi (termofilik) (Hidayat,
2006).
Jamur pada
umumnya mampu menggunakan bermacam-macam makanan dari yang sederhana sampai
yang kompleks. Kebanyakan jamur memiliki bermacam-macam enzim hidrolitik, yaitu
amylase, pektinase, proteinase dan lipase (Hidayat, 2006).
Beberapa
jamur memproduksi komponen penghambat bagi mikroba lain, contohnya Penicillium chrysogenum dengan produksi
penisilinya. Aspergillus clavatus, klavasin. Beberapa komponen kimia bersifat
miostatik menghambat pertumbuhan jamur (misalnya asam sorbet, propionate,
asetat) atau bersofat fungisida yang mematikan (Hidayat, 2006).
2.1.5 Klasifikasi
Jamur
Fungi
dikalsifikasikan menjadi empat kelas utama yaitu Phycomycetes, Ascomycetes,
Basidiomycetes dan Deuteromycetes. Bersadarkan cirri-ciri spora seksual dan
aseksual, habitat, struktur garis besar morfologi dan sifat nutrisinya, kelas
Phycomycetes dibagi lagi menjadi enam kelas, yaitu Cytridiomycetes,
Hypocytridiomycetes, Oomycetes, Plasmodiophormycetes, Trishomycetes dan
Zygomycetes. Keenam kelas ini umumnya tidak mempunyai septa (dinding penyekat)
yang teratur pada benang hifanya (coenocytic hyphae), sehingga mengakibatkan
terdapat banyak mukleus (inti) disetiap sel benang hifa.
1.
Ascomycetes
Jamur ini mempunyai miselium yang bersekat-sekat.
Pembiakan secara vegetative dilakukan dengan konidia, sedang pembiakan secara
generative dilakukan dengan spora-spora yang dibentuk didalam askus, beberapa
askus terdapat didalam suatu tubuh buah. Pada umumnya askus itu suatu ujung
hifa yang mengandung 4 atau 8 buah spora. Contoh-contoh Ascomycetes yang
terkenal ialah:
a. Aspergillus, jamur
ini kedapatan dimana-mana sebagai saprofit. Koloni yang sudah menghasilkan
spora warnanya menjadi coklat kekuning-kuningan, kehijau-hijuan atau
kehitam-hitaman. Miselium yang semula berwarna putih sudah tidak tampak lagi.
b. Penicillium, jamur
ini serupa dengan Aspergillus, hanya
dengan pengamatan mikroskop akan kelihatan perbedaanya dan perbedaan itu
terletak dalam susunan konodianya (Dwidjoseputro, 1998).
2.
Basidiomycetes
`Jamur ini
merupakan miselium berseptum, telah berkembang dengan sempurna dan dapat
melakukan penetrasi pada substrat serta menyerap bahan makanan. Miselium ini
dapat telihat pada bagian-bagian yang lembab dari kayu-kayu terutama pada
bagian bawah kulit dan juga daun-daun. Biasanya miselium berwarna putih, kuning
cerah atau orange dan pertumbuhanya sering menyebar sepeti kipas. Sebagian dari
filum Basidiomycota ada yang membentuk rhizomof. Miselium dari kebanyakan
Basidiomycota melewati 3 tingkat perkembangan yaitu miselium primer, miselium
sekunder dan miselium tersier. Pada awalnya miselium ini berinti banyak,
kemudian dengan terbentuknya septa maka miselium ini berinti satu haploid.
Miselium sekunder terjadi dari hasil plasmogami antara dua hifa yang kompatibel
atau plasmogami antara oidio (spermatia) dengan hifa penerima (reseptif) yang
kompatibel. Miselium tersier terdiri atas miselium sekunder yang telah
terhimpun merupakan jaringan teratur misalnya yang membentuk basidiokarp. Pada
bagian tengah septum terdapat logam. Ada dua tipa dasar dari basidium yaitu: Halobasidium
merupakan basidium yang terdiri dari satu sel atau basidium yang tidak punya
septa dan Phragmobasidium merupakan basidium yang terdiri dari 4 sel yang
dibatasi oleh septa melintang ataupun membujur (Darnetty, 2006).
3. Deuteromycetes
Deuteromycetes juga disebut jamur
tidak sempurna, yaitu jamur yang belum diketahui cara pembiakan seksualnya,
oelh karena itu belum dapat dimasukkan kesalah satu kelas yang telah ditentukan
(Dwidjoseputro, 1998). Akan tetapi karena konidiumnya jelas dan tidak asing
lagi, banyak spesies masih dianggap tergolong kedalam kelas ini meskipun
tingkat seksualnya saat ini telah ditehaui dengan baik. Kapang gerus
Penicillium dan Aspergillus dikalsifikasikan sebagai Deuteromycetes meskipun
tingkat pembentukan askosporanya telah ditemukan pada beberapa spesies
(Pratiwi, 2004).
4. Phycomycetes
Cirri yang khas untuk mengenal
sebagian besar Phycomycetes ialah miselium yang tidak bersekat-sekat. Warna
miselium putih, jika tua mungkin agak coklat kekuning-kuningan, kebanyakan sporangium
berwarna kehitam-hitaman. Beberapa contoh Phycomycetes:
a. Phytophthora,
kebanyakan spesies berupa parasit pada tumbuh-tumbuhan tomat, kentang tembakau,
karet dan lain-lainnya lagi.
b. Saprolegina,
saprofit yang banyak kedapatan didalam air dan tanah yang basah. Ada juga yang
menjadi parasit pada ikan dan insekta.
c. Mucor, saprofit
yang banyak kedapatan pada sisa-sisa makanan yang banyak mengandung
karbohidrat. Mucor membiak dengan dua jalan, yaitu dengan spora yang semacam
saja dan spora-spora yang berlainan jenis.
d. Rhizopus,
beberapa spesies hidup sebagai saprofit dan beberapa spesies lain hidup sebagai
parasit pada tumbuh-tumbuhan. Rhizopus nigricans kedapatan dimana-mana. Semula
miseliumnya tampak seperti sekelompok kapas, lama kelamaan koloni menjadi
berwarna kehitam-hitaman karena banyak sporangium dan spora. Rhizopus banyak
menyerupai mucor, hanya miselium Rhizopus terbagi-bagi atas stolon yang
menghasilkan alat-alat serupa akar (rhizoida) dan sporangiofor (Dwodjoseputro,
1998).
2.2 LICHENES (LUMUT
KERAK)
Lumut kerak merupakan simbiosis
antara jamur dari golongan Ascomycotina atau Basidiomycotina (mikobion) dengan
Chlorophyta atau Cyanobacteria bersel satu (fikobion). Tumbuhan ini tergolong
tumbuhan perintis yang ikut berperan dalam pembentukan tanah. Lumut kerak
bersifat endolitik karena dapat masuk pada bagian pinggir batu. Dalam hidupnya
lichenes tidak memerlukan syarat hidup yang tinggi dan tahan terhadap
kekurangan air dalam jangka waktu yang lama. Lichenes yang hidup pada batuan
dapat menjadi kering karena teriknya matahari, tetapi tumbuhan ini tidak mati,
dan jika turun hujan bisa hidup kembali (Indah, 2009 : 41).
Lichen
merupakan simbiosis mutualisme adalah hubungan antar organisme yang saling
menguntungkan. Jamur pada lumut kerak berfungsi sebagai pelindung dan penyerap
air serta mineral. Ganggang yang hidup di antara miselium jamur berfungsi
menyediakan makan melalui fotosintesis (Kimball, 1998).
Anatomi
Lumut Kerak Apabila kita sayat tipis tubuh lumut kerak, kemudian diamati di
bawah mikroskop, maka akan terlihat adanya jalinan hifa/misellium jamur yang
teratur dan dilapisan permukaan terdapat kelompok alga bersel satu, yang
terdapat disela-sela jalinan hifa. Secara garis besar susunan tubuh lumut kerak
dapat dibedakan menjadi 3 lapisan. Yaitu(Sulisetjiono, 2009):
1.
Lapisan Luar
(korteks) yaitu Lapisan yang tersusun atas sel-sel jamur yang rapat dan kuat,
menjaga agar lumut kerak tetap dapat tumbuh.
2.
Lapisan Gonidium
merupakan lapisan yang mengandung ganggang yang menghasilkan makanan dengan
dengan berfotosintesis.
3.
Lapisan Empulur yaitu lapisan yang tersusun
atas sel-sel jamur yang tidak rapat, berfungsi untuk menyimpan persediaan air
dan tempat terjadinya perkembangbiakan. Pada kelompok lumut kerak berdaun
(feliose) dan perdu (fruticose) memiliki korteks bawah yang susunannya sama
dengan korteks atas, tetapi menghasilkan sel-sel tertentu untuk menempel pada
substirat atau dikenal sebagai rizoid(Kimball, 1988).
3
Morfologi Lumut Kerak menurut pertumbuhannya, lumut kerak memperlihatkan
beberapa macam bentuk morfologi yang berbeda, antara lain(Tjitrosoepomo, 2009):
1.
Foliose (bentuk
daun) memiliki bentuk thallus berupa lembaran dan mudah dipisahkan dari
substratnya. Membentuk bercak pada batu, dinding dan kulit kayu pohon tropika. Permukaan
bawah melekat pada substrat dan permukaan atas merupakan tempat fotosintesis.
Jenis ini tumbuh dengan garis tengah mencapai 15-40 cm pada lingkungan yang
menguntungkan.
2.
Crustose
memiliki bentuk datar seperti kerak. Tumbuh pada kulit batang pohon. Berbentuk
seperti coret-coret kecil dan pada batang kayu yang sudah mati.
3.
Squamulose yaitu
berupa campuran bentuk kerak dan daun.
4.
Fruticose
memiliki thallus tegak mirip perdu. Tumbuh menempel pada substrat oleh satu
atau lebih akar. Beberapa jenis dari lumut ini mempunyai kandungan antibiotik
dan anti kanker. Hidup bergelantungan di udara, menempel pada pohon-pohon di
pegunungan.
5.
Lumut Kerak
Berfilamen Lumut ini tampak seperti kapas wol. Tumbuh pada kulit kayu pohon dan
perdu, berwarna jingga kekuningan atau hijau cerah.
Lumut kerak mampu hidup
pada daerah bebatuan dan mampu merubah area tandus berbatu menjadi tempat yang
digunakan untuk tumbuh-tumbuhan lain. Sehingga berperan sebagai tumbuhan perintis,
membantu siklus nitrogen, sebagai indikator lingkungan Beberapa lumut kerak
yang mengandung ganggang cyanophyta (cynobacterium) yang tumbuh tersebar di
hutan tropika mampu hidup pada intensitas cahaya yang rendah dan yang lebih
penting mereka dapat menggunakan nitrogen bebas (gas nitrogen) menjadi nitrogen
organik (asam amino dan protein). Jadi lumut kerak cynobacterium dalam
ekosistem membantu daur nitrogen yang berperan dalam persediaan pupuk alami
pada ekosistem dasar hutan hujan (Yurnaliza,
2002).
Reproduksi Lumut Kerak Perkembangbiakan lumut kerak dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu vegetatif dan generative. Reproduksi vegetatifnya dilakukan dengan cara fragmentasi soredium. Jika Soredium terlepas, kemudian terbawa angin atau air dan tumbuh di tempat lain. Sedangkan reproduksi genetatif spora yang dihasilkan oleh askokarp atau basidiokarp, sesuai dengan jenis jamurnya. Spora dapat tumbuh menjadi lumut kerak baru jika bertemu dengan jenis alga yang sesuai. Sel-sel alga tidak dapat melakukan perkembangbiakan dengan meninggalkan induknya, melainkan hanya dapat berbiak dengan membelah diri dalam tubuh lumut kerak. Dengan soredium adalah Sekelompok jalinan hifa yang menyelubungi sel- sel alga. Dan fragmentasi adalah terlepasnya bagian tubuh untuk menjadi organisme baru(Tjitrosoepomo, 2009).
Reproduksi Lumut Kerak Perkembangbiakan lumut kerak dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu vegetatif dan generative. Reproduksi vegetatifnya dilakukan dengan cara fragmentasi soredium. Jika Soredium terlepas, kemudian terbawa angin atau air dan tumbuh di tempat lain. Sedangkan reproduksi genetatif spora yang dihasilkan oleh askokarp atau basidiokarp, sesuai dengan jenis jamurnya. Spora dapat tumbuh menjadi lumut kerak baru jika bertemu dengan jenis alga yang sesuai. Sel-sel alga tidak dapat melakukan perkembangbiakan dengan meninggalkan induknya, melainkan hanya dapat berbiak dengan membelah diri dalam tubuh lumut kerak. Dengan soredium adalah Sekelompok jalinan hifa yang menyelubungi sel- sel alga. Dan fragmentasi adalah terlepasnya bagian tubuh untuk menjadi organisme baru(Tjitrosoepomo, 2009).
2.3 LUMUT (BRYOPHYTA)
Bryophyta
adalah tumbuhan darat berklorofil yang tumbuh di tempat-tempat lembab.Tumbuhan
lumut mempunyai pergiliran generasi dari sporofit diploid dengan gametofit yang
haploid. Meskipun sporofit secara morfologi dapat dibedakan dari gametofit
(heteromorf), tetapi sporofit ini tidak pernah merupakan tumbuhan
mandiri yang hidup bebas. Sporofit tumbuhnya selalu dalam ikatan dengan
gametofit, yang berupa tumbuhan mandiri, menyediakan nutrisi bagi sporofit.Pada
lumut, gametofitlah yang dominan. Beberapa tumbuhan lumut masih mempunyai
talus, tidak mempunyai akar, batang, dan daun. Bryophyta yang dapat dibedakan
batang, dan daunnya, belum mempunyai akar sejati, hanya ada rhizoid(Sabariah, 2000).
Dibandingkan dengan alga, jamur dan
tumbuhan tingkat tinggi maka lumut merupakan golongan yang kecil. Bryophyta
adalah tumbuhan darat berklorofil yang tumbuh ditempat-tempat lembab.Tumbuhan
lumut mempunyai pergiliran generasi dari sporofit diploid dengan gametofit yang
haploid.Meskipun sporofit secara morfologi dapat dibedakan dari gemetofit
tetapi sporofit tidak pernah merupakan tumbuhan yang mandiri yang hidup
bebas.Sporofit tumbuhnya selalu dalam ikatan dengan gametofit yang berupa
tumbuhan mandiri, menyediakan nutrisi bagi sporofit.Pada lumut, gametofitlah
yang dominan (Schofield, 1927). Sporofit merupakan fase dimana lumut menghasilkan spora.
Perkecambahan spora, pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan lumut dipengaruhi
oleh kelembaban dan intensitas cahaya matahari ( Windadri, 2009).
Ciri-ciri lumut (Bryophyta) yaitu
berklorofil, belum memiliki akar, daun dan batang sejati, berspora, sudah
membentuk embrio, memiliki gametofit yang dominan dan memiliki alat pembiakan
yang multi sel. Sel-sel alat pembiakan tersebut membentuk selubung luar yang
steril dan di dalamnya terdapat gamet. Struktur yang demikian penting agar
gamet terlindung dan tidak kekeringan.Alat kelamin betina (arkegonium)
bentuknya seperti botol dan berisi satu ovum, alat kelamin jantan (anteredium)
bentuknya lonjong bertangkai pendek dan menghasilkan banyak spermatozoid (Sabariah, 2007).
Lumut terdiri dari tiga jenis, yaitu lumut daun
yang hidup di tanah gambut, lumut tanduk
yang hidup di danau atau sungai dan lumut hati yang berhabitat di
pepohonan (Yuliasari, dkk., 2011).
1. Lumut Hati (Hepaticopsida)
Lumut hati
tubuhnya berbentuk lembaran, menempel di atas permukaan tanah, pohon atau
tebing. Terdapat rizoid berfungsi untuk menempel dan menyerap zat-zat makanan.
Tidak memiliki batang dan daun. Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk
gemma (kuncup), secara generatif dengan membentuk gamet jantan dan betina.
Contohnya: Ricciocarpus, Marchantia dan Lunularia (Yulianto, 1992).
2. Lumut Tanduk (Anthoceratopsida)
Bentuk
tubuhnya seperti lumut hati yaitu berupa talus, tetapi sporofitnya berupa
kapsul memanjang. Sel lumut tanduk hanya mempunyai satu kloroplas. Hidup di
tepi sungai, danau, atau sepanjang selokan. Reproduksi seperti lumut hati.
Contohnya Anthocerros sp (Yulianto, 1992).
3. Lumut Daun (Bryopsida)
Lumut daun
juga disebut lumut sejati. Bentuk tubuhnya berupa tumbuhan kecil dengan bagian
seperti akar (rizoid), batang dan daun. Reproduksi vegetatif dengan membentuk
kuncup pada cabang-cabang batang. Kuncup akan membentuk lumut baru. Contoh:
Spagnum fibriatum, Spagnum squarosum (Yulianto, 1992).
BAB
III
METODE
PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Kuliah
Kerja Lapangan (KKL) kali ini dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 9 November
2014. Studi lapangan ini bertempat di
daerah kawasan Taman Hutan
Raya (Tahura) R.Soeryo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Batu, Kabupaten Daerah Tingkat II
Malang.
3. 2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam KKL ini
adalah sebagai berikut :
1. Kamera 1
buah
2. Pensil 1
buah
3.
Penggaris 1
buah
4.
Banner 1
buah
5.
Label 1
set
6.
Plastik 1
bendel
7.
Catatan 1
buah
8.
Referensi
identifikasi lumut 1
buah
3.2.2 Bahan
Bahan
– bahan yang digunakan adalah sebagai berikut:
1.
Sampel
tumbuhan lumut 1
tanaman
2.
Sampel
tumbuhan liken 1
tanaman
3.
Sampel tumbuhan
jamur 1
tanaman
3.3 Cara Kerja
Langkah-langkah kerja pada saat Kegiatan KKL
(Kuliah Kerja Lapangan) adalah sebagai berikut:
1.
Dicari species
dari Jamur, Lichenes, dan Lumut dengan cara mencarinya di sekitar daerah yang
di amati misal pohon, batu, dan tanah.
2.
Diambil spesies yang telah di
temukan (hanya beberapa saja untuk menjaga kelestarian
lingkungan).
3.
Didokumentasikan species yang
telah di temukan dengan cara di foto
4.
Dimasukkan species yang di peroleh
ke dalam wadah plastic
5.
Dikumpulkan semua species yang
diperoleh pada setiap kelompok
6.
Diidentifikasi semua species yang
telah di temukan (termasuk dalam kelas apa)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Jamur Kayu (Ganoderma lucidum)
|
Gambar Pengamatan
|
Gambar Literatur
|
![]()
Gambar 4.1 Ganoderma lucidum
|
![]()
Sumber:
(Woodi, 2011)
|
Klasifikasi menurut (Alexopoulus,
1996):
Divisi: Basidiomycota
Divisi: Basidiomycota
Kelas:
Agaricomycetes
Bangsa:
Polyporales
Suku: Ganodermataceae
Marga: Ganoderma
Jenis: Ganoderma lucidum
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan di kawasan hutan cangar, didapatkan spesies jamur yaitu Ganoderma lucidum dengan
ciri-ciri pinggiran berwarna cokelat muda, semakin ketengah coklat tua. Hasil pengamatan tersebut sesuai
dengan pendapat Tambunan (1989) bahwa tubuh buah mula-mula berwarna
kekuning-kuningan saat masih muda, yaitu pada umur 1-2 bulan, kemudian berubah
menjadi merah atau cokelat tua.
Jadi bisa dikatakan jamur G. lucidum
yang ditemukan merupakan jamur yang sudah berumur tua.
G. lucidum berbentuk
setengah lingkaran dan agak cekung seperti kipas, talusnya berbentuk lembaran tipis sedikit
keras dengan tekstur bersifat seperti kayu, menempel pada kayu yang sudah
mati dan lapuk. Bagian tengah terdapat misellium dan
bagian yang pinggir disebut cap
namun tidak dalam bentuk tudung. Hasil pengamatan morfologi pada spesies ini
telah sesuai dengan pendapat Gunawan (2000) yang menyatakan bahwa bentuk payungnya setengah lingkaran mirip ginjal, dengan ketebalan
bervariasi antara 2-5 cm.
Habitat Ganoderma
memerlukan lingkungan yang panas dan lembap, suhu antara 26 – 27 derajat
Celsius untuk tumbuh (Suhono, 2012). Oleh karena itu, banyak Ganoderma tumbuh
liar yang di tahura R. Soeryo. Ganoderma
biasa dilihat tumbuh pada pohon yang masih hidup ataupun yang sudah mati.
Biasanya paling banyak ditemui tumbuh pada tanaman angsana (Pterocarpus indica) atau pohon kenari (Canarium commune). Hidupnya pada batang
pohon bersifat parasit sehingga jika jamur ini tumbuh pada batang pohon yang
masih hidup maka disekitar jamur tersebut batang pohon tersebut akan lapuk.
Menurut Tjitrosoepomo (2009)
menyatakan Reproduksi pada jamur kayu (Ganoderma sp.) yang tergolong
dalam devisi basidiomycota secara aseksual dengan cara membentuk sporakonidia. Pertemuan
dua hifa (+) dan hifa (-), terjadi didalam tanah menjadi tubuh buah
(basidiokarp).Perkembangan basidiokarp terjadi di atas permukaann tanah sampai
dengan dihasilkannya basidiospora.Pembentukan basidiospora terjadi di dalam
basidium yang terletak di permukaan bawah tudung basidiokarp. Basidiomycota
bereproduksi secara aseksual dengan permulaan pembentukan spora aseksual
Budding yang terjadi ketika suatu perkembangan sel induk dipisahkan menjadi sel
baru. Setiap sel dalam organisme dapat kuncup.Pembentukan spora aseksual yang
paling sering terjadi di ujung struktur khusus yang disebut konidiospore
(Tjitrosoepomo, 2009).
Sedangkan reproduksi seksualnya
yaitu dengan cara pembentukan basidiospora pada basidium atau diluar basidium
melalui suatu tangkai yang disebut sterigma. Ada bermacam-macam badan buah
pembentuk spora pada Basidiomycetes. Dimana tahapan reproduksi seksual pada
Basidiomycota ialah (Tjitrosoepomo, 2009) ;
1.
Hifa (+) dan hifa (-) yang berinti
haploid (n) berkecambah dari basidospora. Kedua hifa ini saling bersinggungan.
2.
Plasmogami terjadi antara hifa (+)
dan hifa (-) sehingga inti salah satu hifa pindah kehifa lainnya membentuk hifa
dengan dua inti haploid (n) yang berpasangan (dikariotik).
3.
Hifa haploid dikariotik akan tumbuh
menjadi miselium haploid dikariotik.
4.
Miselium dikariotik tumbuh dan
membentuk badan buah yang disebut basidiokarp.
5.
Pada ujung-ujung hifa basidokarp
terjadi kariogami sehingga membentuk basidium yang berinti diploid (2n)
6.
Inti diploid dalam basidium akan
membelah secara meiosis menjadi empat inti yang haploid (n).
7.
Basidium membentuk empat tonjolan
yang disebut sterigma pada ujungnya.
8.
Satu inti haploid pada basidium
kemudian masuk ke dalam salah satu sterigma dan berkembang menjadi
basidiospora.
9.
Jika basidiospora terlepas dari
basidium ndan jatuh pada tempat yang sesuai, akan tumbuh menjadi hifa yang
haploid (Tjitrosoepomo, 2009).
Menurut Gunawan (2000), kandungan utama G. lucidum adalah
protein, polisakarida (ganodelan A, ganodelan B, dan beberapa jenis glukans),
triterpenoid (asam ganodermik, ganodermadiol, dan 110 macam lainnya) yang
strukturnya mirip hormon steroid, juga germanium, ergosterol, coumarin,
mannitol, alkaloid, asam lemak tak jenuh, adenosin, dan berbagai vitamin (B, C,
D) serta mineral (natrium, kalsium, seng, besi, fosfor).
Suranto (2002) menyatakan manfaat jamur
kayu untuk kesehatan dan kebugaran tubuh antara lain: memelihara dan
meningkatkan daya tahan tubuh terhadap gangguan penyakit, menjaga dan
mempertahankan vitalitas tubuh sehingga tetap sehat dan segar,
meningkatkan dan memelihara metabolisme di dalam tubuh, memperkuat kerja
jantung, memelihara dan meningkatkan gairah seksual, menurunkan kandungan kanker
atau tumor akibat senyawa karsinogen.
4.2 Lumut Kerak (Ramalina
farinacea)
|
Gambar Pengamatan
|
Gambar Literatur
|
![]()
Gambar 4.2 Ramalina farinacea
|
![]()
Sumber:
(Woodi, 2011)
|
Klasifikasi menurut (Alexopoulus,
1996):
Kingdom : Plantae
Kingdom : Plantae
Divisi : Ascolichenes
Kelas : Lecanoromycetes
Ordo : Lecanorales
Famili : Ramalinaceae
Genus : Ramalina
Spesies : Ramalina farinacea
Berdasarkan hasil pengamatan
terhadap spesies yang telah ditemukan di Cangar, didapatkan bahwa Ramalina
farinacea merupakan salah satu jenis lichen yaitu frutikosa karena struktur
morfologi talusnya bercabang-cabang menggantung pada substrat yaitu pada batang
pohon yang lembab dan banyak terdapat air. Talusnya tipis dan pendek, berwarna
hijau pudar, struktur talusnya halus dan bentuknya seperti serabut. Menurut
Suhono (2012) jenis ini banyak di Indonesia, tumbuh pada batang tanaman dan
kayu lapuk dan di batuan. Tubuh buah mengkerut dengan tepian putih. Kerutan
tubuh buah berbentuk mirip mangkuk. Berdasarkan pendapat tersebut, pengamatan
telah sesuai.
Spesies ini mirip dengan genus Usnea, akan tetapi talusnya
berbentuk lembaran bukan silinder dan sedikit lebih lebar daripada spesies dari
genus Usnea. Pengamatan tersebut sesuai dengan pendapat Indriani
(2004) bahwa Ramalina
farinacea secara morfologi tanaman ini memiliki bentuk tubuh yang
menyerupai tanaman tingkat tinggi dan memiliki daun semu (lembaran kecil
menyerupai daun). Tjitrosoepomo (2009) juga menambahkan bahwa spesies ini
memiliki daun-daun sempit.
R. farinacea tumbuh dalam koloni pada
batang tumbuhan yang telah lapuk. Daerah dengan kelembapan tinggi amat
disukainya, terutama di tepian sungai. R.
farinacea ini berkembangbiak secara
seksual dan aseksual. Secara seksual dengan apothesia yang tumbuh pada ujung
tubuh buah. Di dalam apothesia terdapat askupora yang berisi spora.
Perkembangbiakan secar aseksual dilakukan dengan potongan atau pemutusan bagian
tubuh buah yang terpisah. Tubuh buah ini kemudian tumbuh menjadi individu baru
dan mengeluarkan banyak tubuh buah berupa batang-batang-batang kecil
bercabang (Suhono, 2012).
Secara tradisional, jenis liken ini di manfaatkan sebagai bahan obat, antara
lain untuk mengobati diare, disentri dan pegel linu. Liken ini juga digunakan
sebagi anti biotik dan anti jamur pada luka dan pembekakan, serta mengatasi
infeksi paru-paru dan TBC (Suhono, 2012).
4.3 Lumut Daun (Polytrichum sp.)
|
Gambar
Pengamatan
|
Gambar
literature
|
![]()
Polytrichum sp.
|
![]()
Sumber : (Kuo, 2011)
|
Klasifikasi Polytrichum sp.
menurut Aslan (1998):
Kingdom: Plantae
Divisi:
Bryophyta
Classis: Bryopsida
Ordo:
Polytricales
Familia:
Polytrichaceae
Genus:
Polytrichum
Spesies: Polytrichum
sp.
Hasil pengamatan pada spesies lumut (Bryophyta) didapat spesies yang bernama Polytrichum sp. Menurut Setyawan (2000), menyatakan bahwa salah satu anggota kelas Bryopsida yang sangat terkenal adalah genus Polytrichum. Kapsul spora
tegak, gigi peristom sebanyak 2-64 buah, terdiri dari sel-sel utuh, tidak
bergaris-garis dengan dinding-dinding menebal dan panjang. Daun kecil, dengan
lamela membujur di sisi-sisinya. Susunan daun khas, merupakan bentuk adaptasi
terhadap kekurangan air. Daunnya berwarna hijau dan sel-sel lapisan atas mengandung banyak klorofil. Hasil
pengamatan pada Polytrichum sp.
ini telah sesuai dengan literatur di atas bahwa warna thallus pada Polytrichum
sp. berwarna hijau. Spesies ini memiliki
bentuk tubuh yang menyerupai tanaman tinggi, memiliki daun semu, tidak terdapat
seta dan kaliptra, tinggi thallus kurang lebih 3 cm.
Habitat Polytrichum
sp. ini di zona amofibious, lebih suka hidup di pinggir sungai, tanah liat,
batuan, kayu-kayu kering, lumpur dan gundukan pasir. Habitat tersebut sesuai
dengan pendapat Setyawan (2000) bahwa Polytrichum sp. termasuk divisi Bryophyta yang sering melimpah di tempat lembab, lumut
ini sensitif terhadap polusi udara, dan di tempat yang mengalami polusi berat
mereka sering tidak tumbuh.
Spesies ini memiliki sel pengangkut untuk mengangkut air dan makanan, baik
pada gametofit maupun sporofit. Gametofit membentuk stadium sementara yang
lemah (protonema), mengandung cabang seksual tegak (gametofit berdaun). Cabang
ini tumbuh menjadi individu baru setelah protonema tereduksi. Cabang seksual
dibedakan menjadi daun dan batang, biasanya simetri radial. Alat kelamin
dibentuk dari sel superfisial dorsal batang. Pertumbuhan sporofit terbatas,
terdiri dari kaki, seta dan kapsul atau hanya kaki dan kapsul saja. Jaringan
sporogen, kapsul dibentuk dari endotesium atau amfitesium embryo, kadang-kadang
dikelilingi kolumela (Setyawan, 2000).
Richardson (1981) dalam Windadri dan Siti (2009) melaporkan bahwa beberapa jenis anggota dari marga Polytrichum dimanfaatkan
untuk memperindah taman di sekitar pura Saihoji di kaki Gunung Kornzan di
sebelah barat Kyoto. Selain ini Polytrichum digunakan sebagai indikator
terhadap kondisi asam serta memiliki mineral dan unsur hara yang kaya.
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Simpulan
yang didapat berdasarkan KKL di Tahura R. Soeryo adalah:
1.
Ganoderma
lucidum merupakan spesies jamur yang mempunyai karakteristik
berwarna
cokelat muda, berbentuk
setengah lingkaran dan agak cekung seperti kipas, talusnya berbentuk lembaran tipis sedikit
keras dengan tekstur bersifat seperti kayu, menempel pada kayu yang sudah
mati dan lapuk. Ganoderma biasa dilihat tumbuh pada
pohon yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Reproduksi basidiomycota secara aseksual dengan
cara membentuk sporakonidia. Sedangkan reproduksi seksualnya yaitu dengan cara
pembentukan basidiospora
2.
Ramalina
farinacea merupakan spesies liken yang mempunyai karakteristik
talusnya bercabang-cabang
menggantung pada substrat yaitu pada batang pohon yang lembab dan banyak terdapat
air. Talusnya tipis dan pendek, berwarna hijau pudar, struktur talusnya halus
dan bentuknya seperti serabut. Reproduksi secara seksual dengan apothesia yang
tumbuh pada ujung tubuh buah. Sedangkan secara aseksual dengan fragmentasi
talus.
3.
Polytrichum
sp. merupakan
spesies lumut yang mempunyai karakteristik warna thallus pada Polytrichum sp. berwarna hijau. Spesies
ini memiliki
bentuk tubuh yang menyerupai tanaman tinggi, memiliki daun semu, tidak terdapat
seta dan kaliptra, tinggi thallus kurang lebih 3 cm. Habitat Polytrichum sp. ini di zona amofibious.
Reproduksi lumut ini secara seksual dengan spora yang dihasilkan oleh sporofit.
Sedangkan secara aseksual dengan fertilisasi yang dihasilkan oleh gametofit.
5.2
Saran
Diharapkan
para praktikan membentuk tim dalam melakukan pengamatan. Hal ini bertujuan
untuk efektifitas dalam pengamatan serta efisiensi waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2014. Perlindungan
Hutan Dan Koservasi Alam. https://www.google.com/ Diakses 12
November 2014
Arif, dkk. 2007. Isolasi Dan
Identifikasi Jamur Kayu Dari Hutan Pendidikan Dan Latihan Tabo-Tabo Kecamatan
Bungoro Kabupaten Pangkep. Jurnal Perennial. Vol 3. No. 2
Aslan, L. M. 1998. Budidaya Jamur. Yogyakarta: Kanisius
Darnetty. 2006. Pengantar
Mikologi. Andalas Universiti Press: Padang.
Dwidjoseputro. 1998. Dasar-Dasar
Mikrobilogi. Djambatan: Jakarta.
Gunawan, A.W. 2000. Usaha Pembibitan Jamur. Jakarta: Penebar Swadaya
Hidayat, Nur dkk. 2006. Mikrobiologi
Industri. Andi: Yogyakarta
Indah, N.
2009. Taksonomi Tumbuhan Tingkat Rendah (Schyzophyta,Thallophyta, Bryophyta,
Pteridophyta). Jurusan Biologi FP MIPA Institut Keguruan Ilmu Pendidikan
PGRI Jember
Indriani.
2004. Biologi Interaktif. Jakarta:
Azka Press
Kimball, J.W. 1998. Biologi Jilid 3 Edisi Kelima. Jakarta:
Erlangga
Lay, Bibiana
W. 1994. Analisis Mikroba Dilaboratorium. Raja Gratindo Persada:
Jakarta.
Perlczar, Michael. 2005. Dasar-Dasar
Mikrobiologi. UI-Press: Jakarta.
Pratiwi, Sylvia T. 2004. Mikrobiologi
Farmasi. Erlangga: Jakarta.
Sabariah, Sukiman. 2000. Biologi.
Bandung: Grafindo
Schofield, W.B. 1927. Introduction to Bryology. Columbia: Departemen
of Botany Unversity of British Columbi
Setyawan, Ahmad Dwi. 2000. Petunjuk Praktikum Tumbuhan Rendah I (Cryptogamae). Surakarta: UNS
Suhono,
Budi. 2012. Ensiklopedia Biologi Dunia Tumbuhan Runjung Dan Jamur.
Jakarta: Lentera Abadi
Sulisetijono. 2009. Fungi. Malang: UIN Press
Suranto. 2002. Budidaya Jamur Kayu. Jakarta: Agromedia Pustaka
Tambunan, B. 1989. Deterotasi Kayu oleh fakultas Biology. Bogor: IPB
Tjitrisoepomo, Gembong. 2009. TaksonomiTumbuhan. Yogyakarta: UGM Press
Windadri. 2009. Keragaman Lumut di Resort Karang Ranjang,
Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Jurnal
Teknik Lingkungan. Vol 10. No 1
Yulianto,
Suroso Adi. 1992. Pengantar Cryptogamae. Bandung: TARSITO
Yuliasari, dkk. 2011. Penurunan
Kebutuhan Oksigen Kimiawi Limbah Jumputan Menggunakan Lumut Hati. Jurnal Penelitian Sains. Vol 14. No 1
Yurnaliza. 2002. Lichenes (Karakteristik, Klasifikasi Dan Kegunaan).
Jurusan Biologi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Sumatera Utara.












0 komentar:
Posting Komentar